ANTARA PEMBERIAN DAN SUAP

Awal-awal masa cakim di Pengadilan Negeri membuat para cakim mencari identitas dirinya, apakah akan menjadi seorang yang idealis atau menjadi apa adanya. Terutama dalam hal materi.

Oleh karena itu dalam permasalahan tulisan ini akan diangkat mengenai pemberian dan suap, persimpangan yang dihadapi oleh seorang cakim.

Sebelum jalan lebih jauh, lihatlah terlebih dahulu apa yang telah kita angkat dalam memperoleh PNS sebagai pekerjaan dan pendapatan kita dalam mencukupi kebutuhan hidup ini.

Sebelum pengangkatan sebagai PNS, cakim diangkat sumpahnya dengan lafal sebagai berikut:

“DEMI ALLAH, SAYA BERSUMPAH:

BAHWA SAYA, UNTUK DIANGKAT MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL AKAN SETIA DAN TAAT SEPENUHNYA KEPADA PANCASILA, UNDANG-UNDANG DASAR 1945, DAN PEMERINTAH;

BAHWA SAYA, AKAN MENTAATI SEGALA PERATURAN PERUNDANG-UDNANGAN YANG BERLAKU DAN MELAKSANAKAN TUGAS KEDINASAN YANG DIPERCAYAKAN KEPADA SAYA DENGAN PENUH PENGABDIAN, KESADARAN DAN TANGGUNG JAWAB;

BAHWA SAYA AKAN SENANTIASA MENJUNG TINGGI KEHORMATAN NEGARA, PEMERINTAH DAN MARTABAT PEGAWAI NEGERI, SAYA AKAN SENANTIASA MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN NEGERA DARIPADA KEPENTINGAN

SAYA SENDIRI, SESEORANG ATAU GOLONGAN;

BAHWA SAYA AKAN MEMEGANG RAHASIA SESUATU YANG MENURUT SIFATNYA ATAU MENURUT PERINTAH HARUS SAYA RAHASIAKAN;

BAHWA SAYA AKAN BEKERJA DENGAN JUJUR, TERTIB, CERMAT, DAN BERSEMANGAT UNTUK KEPENTINGAN NEGERA;

Selanjutnya sebelum menjadi hakim seorang cakim akan diangkat sumpahnya dengan lafal:

“SAYA BERSUMPAH/MENERANGKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH BAHWA SAYA, UNTUK MEMPEROLEH JABATAN SAYA INI LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG, DENGAN MENGGUNAKAN NAMA ATAU CARA APAPUN JUGA, TIADA MEMBERIKAN ATAU MENJAJIKAN BARANG SESUATU KEPADA SIAPAPUN JUGA”;

“SAYA BERSUMPAH/BERJANJI BAHWA SAYA UNTUK MELAKUKAN ATAU TIDAK MELAKUKAN SESUATU DALAM JABATAN INI, TIADA SEKALI-KALI AKAN MENERIMA LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG DARI SIAPAPUN

JUGA SESUATU JANJI ATAU PEMBERIAN”;

“SAYA BERSUMPAH/BERJANJI BAHWA SAYA AKAN SETIA KEPADA DAN AKAN MEMPERTAHANKAN SERTA MENGAMALKAN PANCASILA SEBAGAI DASR DAN IDIOLOGI NEGARA, UNDANG-UNDANG DASAR 1945 DAN SEGALA UNDANG-UNDANFG SERTA PERATURAN-PERATURAN LAIN YANG BERLAKU BAGI NEGARA REPUBLIK INDONESIA;

“SAYA BERSUMPAH/BERJANJI BAHWA SAYA SENANTIASA AKAN MENJALANKAN JABATAN SAYA INI DENGAN JUJUR, SEKSAMA DAN DENGAN TIDAK MEMBEDA-BEDAKAN ORANG DAN AKAN BERLAKU DALAM MELAKSANAKAN KEWAJIBAN SAYA SEBAIK-BAIKNYA DAN SEADIL-ADILNYA SEPERTI SELAYAKNYA BAGI SEORANG HAKIM/PANITERA PENGGANTI/

JURUSITA YANG BERBUDI BAIK DANJUJUR DALAM MENEGAKKAN HUKUM DAN KEADILAN.”

Dari kedua sumpah tersebut sudah jelas, pemberian atau janji sebelum dan sesudah kita diangkat menjadi hakim tidak akan diterima oleh seorang cakim yang idialis.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua pemberian itu tidak boleh kita terima. Ingatlah bahwa cakim itu manusia juga man……

Di sinilah cakim itu akan diuji kebijakan dan kearifan dalam menilai permasalahan pemberian dan suap yang akan dihadapinya.

Seyogyanya, semua nikmat yang kita (cakim – red), hendaklah kita tempatkan dalam hati kita sebagai anguerah Tuhan semata, agar kita tidak termasuk orang yang merugi. Seorang Hukama berkata, “Menanggung kebaikan dari pemberian manusia akan menjadi beban bagimu dibandingkan

dengan kesabaran karena menderita kekurangan.”

Hal ini tidak berarti, apabila sesama manusia memberi kepada sesama manusia harus ditolak. Apalagi itu dalam rangka hubungan silahturahmi dan muamalah yang tulus dan saleh. Agama dan keyakinan kita tidak memperbolehkan menolak pemberian sesama manusia, selama pemberian itu tidak menjatuhkan martabatnya sebagai hamba Tuhan, dan tidak menyebabkan kita lupa bahwa semua yang diterima tidak semata-mata dari si pemberi, akan tetapi semata-mata karunia dan kasih sayang Tuhan.

Pemberian yang patut ditolak, adalah pemberian karena membalas jasa karena pernah menerima sesuatu dari seseorang (seperti perkara di pengadilan), lalu kita membalas jasa tersebut, karena sesuatu ukuran duniawi bukan karena semata-mata karena Tuhan (hal ini disebabkan kita telah meminjam stempel ke-Tuhan-an dalam menjalankan pekerjaan kita, ingat irah-irah putusan). Apalagi suatu pemberian yang dimaksud untuk memperoleh keuntungan yang besar, sehingga menjadi semacam bentuk suapan agar melancarkan sesuatu yang menjadi tujuan. Pemberian seperti ini patut ditolak, karena menjurus kepada penyuapan dan dilarang oleh agama serta keyakinan kita.

Hal yang patut diingat oleh penulis dan cakim adalah JANGAN DUSTAI HATI DAN TUHANMU. Hiduplah apa adanya, seperti apa yang telah dibisikkan oleh hatimu.

– *** –

 

0 Responses to “ANTARA PEMBERIAN DAN SUAP”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 98,298 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated