VASEKTOMI SEBAGAI PENGENDALI LAJU KELAHIRAN DAN KEMISKINAN

Kelahiran, kehidupan, dan kematian adalah wewenang Tuhan YME.

Pertanyaan yang timbul adalah apakah kita bisa dan diperbolehkan mengendalikan kelahiran dengan cara mencegah timbulnya kelahiran, yakni mencegah adanya pembuahan sperma kepada sel telur.

Pendapat umum yang ada di masyarakat adalah mencegah kelahiran dengan cara menghalangi pembuahan sperma kepada sel telur masih diperbolehkan, karena insan manusia baru ada didefinisikan dengan setelah bertemuanya sperma dengan sel telur. Sehingga jika telah ada pembuahan, yakni bertemunya sperma dengan sel telur, kemudian akan diaborsikan maka hal demikian dilarang oleh pendapat umum.

Adapun yang dimaksud dengan vasektomi secara umum didefinisikan: “Vasectomy is a surgical procedure for male sterilization and/or birth control. During the procedure, the vasa deferentia of a man are severed, and then tied/sealed in a manner such to prevent sperm from entering into the seminal stream (ejaculate). Vasectomies are usually performed in a doctor’s office or medical clinic. There are several methods by which a surgeon might complete a vasectomy procedure, all of which occlude (seal) at least one side of each vas deferens. To help reduce anxiety and increase patient comfort, men who have an aversion to needles might opt for the “no-needle” application of anesthesia while the “no-scalpel” or “open-ended” techniques help to speed-up recovery times and increase the chance of healthy recovery. Due to the simplicity of the surgery, a vasectomy usually takes less than 30 minutes to complete. After a short recovery at the doctor’s office (usually less than an hour), the patient is sent home to rest. Because the procedure is minimally invasive, many vasectomy patients find that they can resume their typical lifestyle routines within a week, and do so with minimal discomfort. Because the procedure is considered a permanent method of birth control (not easily reversed), men are usually counseled/advised to consider how the long-term outcome of a vasectomy might affect them both emotionally and physically.” (Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Vasectomy, diakses hari Selasa, 10 Mei 2011, pukul 14.49 WIB)

Sehingga dengan demikian, telah menjadi jelas vasektomi dapat digunakan sebagai alat untuk mengendalikan laju kelahiran.

Selanjutnya apakah hubungan vasektomi sebagai pengendali kemiskinan.

Untuk sejenak, kita asumsikan setiap manusia memakan tiga kali sehari dengan nominal Rp30.000,-, kemudian kita bandingkan antara keluarga A yang berjumlah 4 jiwa dengan keluarga B yang berjumlah 10 jiwa.

Dengan perbandingan tersebut kita akan peroleh penjumlahan bahwa keluarga A mengeluarkan biaya bulanan untuk makan sebanyak Rp3.600.000,- sedangkan keluarga B sebanyak Rp9.000.000,-

Dengan selisih antara keluarga A dan keluarga B sebanyak Rp5.300.000,-. Kemudian kita asumsikan bahwa pendapat keluarga itu sama banyaknya, yakni Rp9.000.000,-.

Apakah sudah bisa kita bayangkan selisih Rp5.300.000,- tersebut dapat digunakan untuk peningkatan kualitas kehidupan bagi keluarga A, sedangkan bagi keluarga B tidak ada lagi dana untuk peningkatan kualitas kehidupan bagi keluarganya.

(CATATAN: ASUMSI DIATAS BUKAN UNTUK MENIADAKAN KUASA TUHAN MEMBERIKAN KEBERKATAN KEPADA MAHLUK-NYA.)

Dari gambaran demikian, penulis hanya mengajak pembaca seandainya asumsi sederhana di atas digunakan oleh pemerintah untuk melakukan pengentasan kemiskinan yang selanjutnya masalah lapangan pekerjaan juga akan teratasi.

SEANDAINYA pemerintah berani untuk melakukan policital will berupa pemberian konpensasi kepada pelaku vasektomi berupa imbalan sejumlah uang Rp10.000.000,- yang kemudian konpensasi tersebut digunakan untuk modal kerja, maka pemerintah sekali mendayung akan melampaui dua tiga pulau.

Selain memberikan dana kerja, pemerintah juga dikemudian hari tidak akan terbebani oleh kelahiran yang melonjak yang dapat membebani anggaran jaminan kesehatan, pangan, pendidikan dan lapangan pekerjaan.

Tentunya program vasektomi demikian tidak boleh secara bebas terbuka untuk dimanfaatkan oleh warga negara yang beritikad tidak baik. Syarat-syarat yang ketat pun harus diberikan oleh pemerintah, misalkan vasektomi hanya diperbolehkan bagi pria yang telah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak, serta bagi keluarga yang bergolongan penghasilan rendah (bisa termasuk rakyat kelas menangah atau pun rakyat miskin).

SEANDAINYA pemerintah juga berani melokalisasikan dana sebanyak Rp1.000.000.000.000,- (satu trilyun rupiah) maka dengan pemberian konpensasi Rp10.000.000,- dapat meliputi 100.000 kepala keluarga yang sama dengan 0.53% dari seluruh orang miskin (jumlah orang miskin diasumsikan 30% dari 250 juta orang Indonesia).

SEANDAINYA program vasektomi ini berlangsung selama 10 tahun, maka angka kemiskinan akan berkurang 50%, dan selain itu beban subsidi beras miskin, jaminan kesehatan, pendidikan dan lapangan pekerjaan juga akan mengalami dampak yang cukup signifikan, yang mana program vasektomi ini akan menjadi akselator peningkatan kualitas kehidupan warga negara Indonesia.

Semoga tulisan refleksi keprihatinan penulis akan jumlah kemiskinan orang Indonesia,  yang katanya negerinya kaya raya akan sumber daya alam, dapat dijadikan sebagai lilin menyala di tengah kegelapan malam.

0 Responses to “VASEKTOMI SEBAGAI PENGENDALI LAJU KELAHIRAN DAN KEMISKINAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated