MEMBAYAR SISTEM BUKAN MEMBAYAR MANUSIA

Pada peradaban yang serba modern sekarang ini, manusia telah menciptakan sistem-sistem yang membantu kerja manusia itu sendiri sebagaimana awal penciptaan sistem tersebut untuk mempermudah kehidupan manusia itu sendiri.

 Tetapi pada akhirnya, manusia itu sendiri pun menjadi ketergantungan terhadap sistem demikian. Manusia rela membayar lebih kepada kinerja sistem, tetapi untuk manusia di luar sistem, jarang sekali kehidupannya diperhatikan.

Hal ini dapat dilihat dari adanya sistem penarapidanaan atau pelembagaan pemasyarakatan di Indonesia. Pajak dari rakyat dipergunakan untuk memberikan hotel prodeo bagi para pelaku kejahatan yang telah dinyatakan bersalah.

Narapidana diberikan makan tiga kali sehari dengan penjagaan ketat yang hal ini hanya diperuntukkan supaya sistem keamanan di masyarakat menjadi terjamin. Sistem yang mengakomodir rasa ketakutan masyarakat terhadap tindakan-tindakan pelaku kejahatan.

Tetapi di sisi lain, kehidupan anak-anak terlantar di pinggir jalan dan fakir miskin yang berada di luar sistem yang mengakomodir rasa ketakutan masyarakat tidak terjangkau. Mereka hanyalah sebagai pemandangan yang tidak menyedapkan bagi masyarakat lainnya, mereka tidak dianggap sebagai pelaku kejahatan yang dapat membahayakan masyarakat, tetapi mereka hanyalah membuat masyarakat menimbulkan rasa ketidaknyamanan saja. Anak-anak di pinggir jalan dan fakis miskin diwajibkan untuk mencari penghidupan bagi diri mereka sendiri, tetapi sangat kontras dengan para narapidana yang diberikan pelayanan hotel prodeo (penjara).

Jika dilihat dari sisi keadilan, apakah adil orang yang berprilaku jahat diberikan pelayanan tetapi bagi mereka yang memang wajib untuk dibantu seperti fakir miskin dan anak-anak jalanan tidak perlu diberikan pelayanan, dengan alias biarkan mereka mencari penghidupan sendiri toch selama ini mereka hanya memberikan pemandangan yang tidak menyedapkan saja bukan perilaku yang membahayakan keamanan masyarakat.

Inilah manusia, aneh bin ajaib. Manusia rela membayar sistem itu sendiri tetapi mengabaikan penghargaan terhadap sesama manusia.

Semakin modern, manusia semakin jauh dari kearifan lokal yang telah diajarkan oleh para orangtua terdahulu.

Semakin modern, manusia semakin membayar mahal untuk kemodernya tersebut.

Satu hal dimodernkan dan dibuat sistemnya membuat pula manusia membuat sistem yang lebih dari terdahulunya, layaknya seperti teori batu bata: semakin tinggi tembok yang akan dibangun maka akan semakin tinggi pula alat yang digunakan untuk menembok bata yang tinggi. Semakin tinggi tembok bata maka semakin mudah pula tembok itu runtuh.

0 Responses to “MEMBAYAR SISTEM BUKAN MEMBAYAR MANUSIA”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated