HAK DAN KEWAJIBAN “atau” KEWAJIBAN DAN HAK

Kehidupan setiap insan dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan yang ditempatinya dan lingkungan kebudayaan tersebut adalah hasil dari rekayasa manusia itu sendiri.

Hal demikian juga berpengaruh terhadap pemakaian kata dan kalimat sebagai lambang dan simbol komunikasi manusia untuk menyampaikan gagasan/ide dan budayanya.

Penggunaan kata “hak dan kewajiban” dan “kewajiban dan hak” juga dipengaruhi oleh pemahaman ide/gagasan dan budaya si pengguna kata tersebut.

Dalam budaya Indonesia yang Pancasilaism, pemenuhan hak lebih utama daripada kewajiban. Ini sebagai cerminan budaya Indonesia memandang orang seperti anak bayi yang lebih dahulu dipenuhi kebutuhannya yang kemudian setelah dewasa baru dituntut kewajibannya kepada masyarakat sekitarnya, sebagaimana pada Sila ke-2: “Kemanusiaan yang adil dan beradab.”

Sedangkan, pemahaman kata “kewajiban dan hak” juga merupakan cerminan budaya Eropa yang berpaham kapitalis yang menuntut pemenuhan prestasi (kewajiban) yang kemudian diikuti oleh pemenuhan hak.

Penggunaan kata-kata ini dapat sebagai petunjuk bagi kita untuk mengetahui paham apakah yang dipakai oleh si pengguna kata tersebut. Jika pengguna kata lebih menekankan “kewajiban dan hak”, maka dapat diduga dia menganut paham kapitalis, sebaliknya jika pengguna kata lebih menekankan “hak dan kewajiban”, maka dapat diduga dia menganut paham “Pancasilaism”.

Selanjutnya penulis akan membandingkan penggunaan kata tersebut dengan keadaan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa negara Indonesia, yang mana cita-cita pendiri bangsa yang menginginkan bangsa ini berpondasikan kepada nilai-nilai Pancasila tidak sejalan dengan kenyataan yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia.

Hal ini terbukti dengan slogan-slogan yang dipakai oleh pemimpin-pemimpin instansi Indonesia yang selalu menggunakan kutipan John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35: “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu! Padahal John F. Kennedy adalah penganut paham kapitalis tulen dan sayangnya kutipan ini sering didengungkan oleh pemimpin-pemimpin Indonesia yang katanya berpaham Pancasila.

Salah satu bukti paham “kewajiban dan hak” dipergunakan oleh bangsa Indonesia terlihat dari sistem penggajian Pegawai Negeri Sipilnya yang lebih mendahulukan gaji daripada kerjanya Pegawai Negeri Sipil.

Adapun paham penulis bagi pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang menggunakan kutipan dari John F. Kennedy tersebut sebenarnya adalah sebagai upaya untuk menghilangkan kewajiban negara untuk memberikan hak kepada rakyatnya. Bukankah negara itu diciptakan/didirikan sebagai kontrak sosial untuk negara mengurus rakyatnya.

Sehingga, jika masih adanya pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang masih menggunakan kutipan dari John F. Kennedy tersebut, dapatlah kita pertanyakan paham apakah yang dianutnya. Apakah paham Pancasila, ataukah paham kapitalis?

Karena sepengalaman penulis, penulis hanya mendengarkan kata “hak dan kewajiban” sedangkan kata “kewajiban dan hak” sangatlah asing bunyinya di telinga penulis yang hidup dan besar di tanah Indonesia yang berpaham Pancasila ini.

0 Responses to “HAK DAN KEWAJIBAN “atau” KEWAJIBAN DAN HAK”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated