FAKTA DAN KENYATAAN DALAM HUKUM ACARA PEMBUKTIAN, khususnya untuk KUHAP

Norma/kaidah pembuktian yang terdapat pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana  adalah bersifat negatif, yakni sebagaimana yang digariskan pada Pasal 191 KUHAP:

"(1) Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa diputus bebas.

(2) Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum."

Sedangkan pada Pasal 193:

"(1) Jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan pidana."

Pada Pasal 183:

"Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia peroleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya."

Sifat negatif tersebut terlihat dari adanya "keyakinan" hakim atas kesalahan terdakwa atas dua alat bukti yang sah. Jika hakim tidak yakin atas kesalahan pada terdakwa, maka hakim tidak dapat menjatuhkan pidana kepada terdakwa.

Hal ini dikarenakan dari sifat hukum pidana tersebut yang ultimum remedium, atau sebagai pintu terakhir dan bersifat pula merampas hak seseorang, terutamanya hak hidup bebas.

Adapun dari itu, Apakah hubungannya dengan fakta dan kenyataan di dalam hukum acara pidana atas keyakinan?

Untuk pengadilan berpendapat terbukti atau tidak terbuktinya atas perbuatan dan kesalahan terdakwa. Hal ini semua berasal dari alat-alat bukti yang diajukan di depan persidangan, dan dari alat bukti tersebut diperoleh fakta dan keadaan hukum, yang mana fakta dan keadaan hukum yang diperoleh dari alat pembuktian  di pemeriksaan di sidang tersebutlah yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa.

Persoalan kemudian timbul, manakala dari alat-alat bukti yang sama timbul beberapa fakta dan keadaan hukum yang berbeda.

Hal ini dapat digambarkan dengan mudah seperti contoh di bawah ini.

Ada lima orang yang berada pada satu ruangan dan satu waktu yang melakukan pengamatan terhadap suatu benda.

Orang ke-1 (perumpamaan dari tersangka/terdakwa) mengatakan benda tersebut berbentuk kayu.

Orang ke-2 (perumpamaan dari penyidik) mengatakan benda itu berbentuk datar.

Orang ke-3 (perumpamaan dari penuntut umum) mengatakan benda itu berbentuk kotak.

Orang ke-4 (perumpamaan dari hakim) mengatakan benda itu berwarna coklat.

Orang ke-5 (perumpamaan dari penasehat hukum) mengatakan benda itu berkaki empat.

Untuk satu waktu, satu keadaan/tempat, kelima orang tersebut menggambar hal-hal yang berbeda tetapi mengandung kebenaran, yang mana mereka sedang melakukan pengamatan terhadap meja.

Kesemua orang tersebut tidaklah mengatakan hal yang tidak jujur, tetapi kebetulan orang-orang tersebut menundukkan pengamatannya pada sudut pandang yang berbeda.

Terhadap satu sudut pandang dapat menghasilkan hasil pengamatan yang berbeda terhadap sudut pandang dari tempat lainnya, walaupun itu dalam satu keadaan yang sama.

Sehingga dengan demikian, adanya hasil pengamatan yang berbeda tersebut dapat mengakibatkan dan berbuah kepada perbedaan penghukuman atas satu kasus yang sifatnya sama atas pasal-pasal pidana yang sama pula.

Hal ini dapat bula menghasilkan DILEMA bagi para penegak hukum dan pencari keadilan.

Hal-hal demikian sudah dipikirkan oleh para pendahulu kita. Kita yang hidup sekarang hanyalah sedang menjalani "jalan" yang sama yang telah pula dilalui oleh para pendahulu kita.

Oleh sebab itulah solusi dari semua hal di atas, aturan main dalam permasalahan hukum telah mengatur tempat para pihak yang bermasalah dan hakim terletak di tengah-tengah para pihak.

Keberadaan tempat duduk hakim yang lebih tinggi dari para pihak dan berada di tengah-tengah para pihak, mengandung suatu filosofi hukum yang dalam.

Hakim itu harus melihat dari sudut pandang penyidik/penuntut umum, terdakwa, penasehat hukum, pengunjung sidang/masyarakat, panitera, dan hakim yang lainnya, serta pada dirinya sendiri.

Kesemuanya itu tidak hanya atas pengamatan yang diproses dalam otak/pikiran, tetapi juga hendaknya harus di bawa ke dalam hati yang buahnya adalah KEYAKINAN.

Peran hati dari seorang hakim sangatlah penting daripada pemikiran/otak belaka.

Bukankah hakim itu berarti seorang yang "bijaksana", yang mana bijaksana tersebut terkandung suatu keyakinan dan keyakinan itu digantungkan kepada KETUHANAN YANG MAHA ESA. Sehingga titel eksekutorial dalam putusan seorang hakim berjudul "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA."

Dengan hati, seorang hakim dapat membuka tabir dari perkara yang sedang dihadapinya, sedangkan dengan pemikiran belaka, dapat mengakibatkan seorang hakim seperti layaknya alat mekanis yang tidak terkandung sifat bijaksananya.

JANGAN DUSTAI HATI DAN TUHANmu

JAGALAH HATIMU, UNTUK MENUNDUKKAN PEMIKIRANMU

JADIKAN HATIMU SEBAGAI RAJA DAN PIKIRANMU SEBAGAI BUDAK

Pustaka:

fakta
fak.ta
[n] hal (keadaan, peristiwa) yg merupakan kenyataan; sesuatu yg benar-benar ada atau terjadi

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/fakta#ixzz1T5YtN0ZL, diakses hari Senin tanggal 25 Juli 2011 pukul 11.33 WIB

kenyataan
ke.nya.ta.an
[n] (1) hal yg nyata; yg benar-benar ada: kebenaran itu disebabkan oleh ~; (2) terbukti; bukti(nya): ~ nya tidak pernah ada tindakan kekerasan di desa itu

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/kenyataan#ixzz1T5Z7zllx, diakses hari Senin tanggal 25 Juli 2011 pukul 11.34 WIB

0 Responses to “FAKTA DAN KENYATAAN DALAM HUKUM ACARA PEMBUKTIAN, khususnya untuk KUHAP”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated