FITNAH vs PEMBUNUHAN

Ada ungkapan atau peribahasa di kehidupan masyarakat Indonesia yang terkenal berupa:

"Fitnah lebih kejam dari pembunuhan"

yang diartikan dengan mengatakan sesuatu terhadap keadaan orang lain dengan tidak sebenarnya, atau menuduh seseorang dengan yang tidak sebenarnya.

Apakah hal demikian tepat untuk penggunaan kata-bahasa Indonesia, yakni kata "fitnah" dikaitkan dengan ‘menuduh atau mengatakan keadaan seseorang yang tidak sebenarnya’?

Untuk menjawab hal tersebut, kita perlu menengok terlebih dahulu sumber asli dari kata "fitnah" yakni dari bahasa Arab, dan tentunya pula keotentikan arti tersebut dapat pula diambil dari bahasa Qur’an, yaitu:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَـٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[134]. Dan berbuat fitnah[135] lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (red: garis bawah oleh penulis) Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS Al Baqarah, 2:217)

[134]. Jika kita ikuti pendapat Ar Razy, maka terjemah ayat di atas sebagai berikut: Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, dan (adalah berarti) menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah dan (menghalangi manusia dari) Masjidilharam. Tetapi mengusir penduduknya dari Masjidilharam (Mekah) lebih besar lagi (dosanya) di sisi Allah." Pendapat Ar Razy ini mungkin berdasarkan pertimbangan, bahwa mengusir Nabi dan sahabat-sahabatnya dari Masjidilharam sama dengan menumpas agama Islam.
[135]. Fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan Muslimin.

Versi terjemahan Inggris:

(217) They ask thee concerning fighting in the Prohibited Month. Say: "Fighting therein is a grave (offence); but graver is it in the sight of Allah to prevent access to the path of Allah, to deny Him, to prevent access to the Sacred Mosque, and drive out its members." Tumult and oppression are worse than slaughter. Nor will they cease fighting you until they turn you back from your faith if they can. And if any of you Turn back from their faith and die in unbelief, their works will bear no fruit in this life and in the Hereafter; they will be companions of the Fire and will abide therein.

Ada pun pengertian "fitnah" itu sendiri dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah:

fitnah
fit.nah
[n] perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dng maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik, merugikan kehormatan orang): — adalah perbuatan yg tidak terpuji

dusta
dus.ta
[a] tidak benar (tt perkataan); bohong

rumor
ru.mor
[n] gunjingan: — dapat berkembang dr mulut ke mulut

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org, diakses hari Jumat tanggal 9 September 2011.

Jika penafsiran/pengartian kata "fitnah" merujuk kepada kutipan di atas, maka sudah jelas pemahaman kita, bahwasanya arti kata "fitnah" – yakni dalam peribahasa yang dimaksud tersebut di atas, yang selama ini beredar di masyarakat Indonesia adalah jauh dari maksud yang sebenarnya dari penggunaan kata "fitnah" itu sendiri, sebagaimana pada konteks Al Quran.

Tetapi bagaimana penggunaan  kata "fitnah" yang dimaksud oleh masyarakat Indonesia berkaitan dengan "menuduh seseorang terhadap keadaan yang tidak sebenarnya", apakah masih ada relevansinya (hubungan) pada ke kinian?

Terhadap hal-hal yang berkaitan dengan penuduhan seseorang terhadap sesuatu yang tidak sebenarnya selalu paralel dengan suatu tindak pidana yang akhirnya berujung kepada hukum pidana, terutama untuk masa sekarang adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang sumbernya masih berkiblat kepada Hukum Kolonial Belanda.

Hal demikian diatur pada Bab XVI: PENGHINAAN, pasal 310 sampai dengan Pasal 321 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana).

Pada Pasal 310 KUHP ditujukan pengaturannya terhadap larangan menista dengan tujuan merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menyiarkannya tuduhan tersebut, baik dengan lisan atau pun tulisan (surat).

Pasal 310 (1):Barangsiapa sengaja merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menuduh dia melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu, dihukum karena menista, dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp4.500,-

Pasal 310 (2): Kalau hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan pada umum atau ditempelkan, maka yang berbuat itu dihukum karena menista dengan tulisan dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp4.500,-

Pada Pasal 311 KUHP ditujukan pengaturannya terhadap larangan "memfitnah".

Pasal 311 (1): Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan tuduhannya itu, jika ia tiada dapat membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.

Sehingga terhadap Pasal 310 dan 311 adalah suatu penghinaan dengan cara "menuduh suatu perbuatan".

Pada Pasal 315 KUHP ditujukan pengaturannya terhadap larangan penghinaan yang tidak bersifat menista atau pun menista dengan tulisan, seperti penghinaan dengan kata-kata: anjing, sundel, pelacur, bajingan.

Pasal 315: Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat menista atau menista dengan tulisan, yang dilakukan kepada seseorang baik ditempat umum dengan lisan, atau dengan tulisan, maupun dihadapan orang itu sendiri dengan lisan atau dengan perbuatan begitupun dengan tulisan yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, dihukum karena penghinaan ringan, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat bulan dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya Rp4.500,-

Untuk pasal-pasal di atas, yakni pasal tentang penghinaan diperlukan syarat-syarat: 1. Penghinaan dilakukan di tempat umum yang mana yang dihina tidak perlu berada di situ; 2. Jika penghinaan tidak dilakukan di tempat umum, maka bila dengan lisan orang yang dihina harus ada di situ melihat dan mendengar sendiri, sedangkan untuk melalui surat (tulisan) maka surat itu harus dialamatkan kepada yang dihina.

Ada pun untuk penghinaan yang dilakukan dengan perbuatan, misalnya dengan meludah ke muka orang, mendorong lepas peci atau ikat kepada orang Indonesia.

Khusus kepada Pasal 315 KUHP, meskipun kata-kata yang diucapkan mengandung kebenaran tetapi dapat menimbulkan penghinaan bagi yang dituju, maka dapat dikenakan pasal ini, sebagai contoh: Kata "maling" diucapkan terhadap seorang pencuri, atau kata "sundel" terhadap wanita pelacur.

Untuk kata-kata yang memerlukan pengertian lebih dalam, diambil pengertiannya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebagai berikut:

penghinaan
peng.hi.na.an
[n] proses, cara, perbuatan menghina(kan); menistakan: ~ yg dilontarkan kepadanya betul-betul keterlaluan

hina
hi.na
[a] (1) rendah kedudukannya (pangkatnya, martabatnya): sesungguhnya aku ini orang yg –; (2) keji, tercela; tidak baik (tt perbuatan, kelakuan): zina merupakan perbuatan yg —

menista
me.nis.ta
[v] menganggap nista; mencela

nista
nis.ta
[a] (1) hina; rendah: perbuatan itu sangat –; (2) tidak enak didengar: kata-kata –; (3) cak aib; cela; noda: — yg tidak terhapuskan lagi

cela
ce.la
[n] (1) sesuatu yg menyebabkan kurang sempurna; cacat; kekurangan: tidak ada cacat — nya sedikit pun; (2) aib; noda (tt kelakuan dsb); (3) hinaan; kecaman; kritik: puji dan — harus kita terima dng lapang dada

Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/, diakses hari Jumat tanggal 9 September 2011.

Untuk Pasal 317 ditujukan pengaturannya terhadap larangan "mengadu secara memfitnah"

Pasal 317 (1): Barangsiapa dengan sengaja memasukkan atau menyuruh menuliskan surart pengaduan atas pemberitahuan yang palsu kepada pembesar Negeri tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama baik orang tiu jadi tersinggung, maka dihukum karena mengadu dengan memfitnah, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.

Untuk Pasal 318 ditujukan pengaturannya terhadap larangan "tuduhan secara memfitnah", sebagai contoh: dengan diam-diam menaruh ganja di mobil seseorang dengan tujuan untuk pemilik/pembawa mobil tersebut dikenakan hukuman.

Pasal 318 (1): Barangsiapa dengan sengaja dengan melakukan suatu perbuatan, menyebabkan orang lain dengan palsu tersangka melakukan sesuatu perbuatan yang dapat dihukum, maka dihukum karena tuduhan mempitnah, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.

Dari paparan di atas, dapat diambil benang merahnya, bahwa semua pasal tersebut adalah mengatur mengenai penghinaan, yaitu menyerang kehormatan atau nama baik seseorang (masih hidup atau pun sudah meninggal dunia, lihat Pasal 321 KUHP) dan yang diserang itu biasanya merasa malu (atau ahli warisnya, jika yang dihina sudah meninggal dunia), sehingga pasal-pasal tersebut adalah merupakan "delik aduan" kecuali terhadap bila penghinaan itu dilakukan terhadap seorang pegawai negeri pada waktu sedang menjalankan pekerjaannya yang sah, dan sasaran penghinaan atau obyek penghinaan adalah manusia perseorangan.

Walaupun demikian ada perbedaan sifat yang diaturnya, yakni untuk Pasal 310 untuk penghinaan yang bersifat menista baik secara lisan atau tulisan, Pasal 311 untuk penghinaan yang bersifat memfitnah, Pasal 315 untuk penghinaan yang bersifat penghinaan ringan, Pasal 317 untuk penghinaan yang bersifat mengadu secara memfitnah, dan Pasal 318 untuk penghinaan yang bersifat tuduhan secara memfitnah

Dari aspek agama Islam, pengaturan kaidah hukum dalam pasal-pasal di atas ada kesamaan pengaturannya dalam hukum/syariah agama Islam, yakni manusia beriman dilarang untuk berghibah dan berdusta.

Ghibah adalah membicarakan suatu keadaan yang benar adanya pada diri orang yang dibicarakan, sedangkan dusta adalah membicarakan suatu keadaan yang tidak benar adanya pada diri orang yang dibicarakan.

Sehingga terhadap Pasal 310 dan 315 mempunyai kesamaan kaidah hukum dengan ghibah, sedangkan untuk Pasal 311, 317, dan 318 mempunyai kesamaan kaidah hukum dengan dusta.

Dari semua uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan, bahwasanya ungkapan/pribahasa "fitnah lebih kejam dari pembunuhan" bukanlah dalam konteks "penghinaan yang bersifat menista dan dusta", tetapi dalam konteks "penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan Muslimin".

Sumber Pustaka:

R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Bogor: Politeia, 1993.

http://kamusbahasaindonesia.org/

www.searchtruth.com

http://www.alquran-digital.com

0 Responses to “FITNAH vs PEMBUNUHAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 98,298 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated