WAKTU

Sesungguhnya kekayaan sejati yang dimiliki setiap insan manusia adalah kesempatan untuk hidup di dunia ini yang dibagi dalam waktu.

Dengan pemahaman yang baik atas pembagian waktu dapat memudahkan manusia untuk berusaha di muka bumi ini.

Hal yang sederhana dari pembagian waktu dalam satu hari adalah siang dan malam.

Siang dimulai dari matahari terbit hingga terbenamnya matahari, sedangkan malam dimulai dari terbenamnya matahari hingga terbitnya matahari.

Siang juga dibagi lagi menjadi duha, pagi, tengah hari, petang/sore.

Duha dimulai dari setelah matahari terbit hingga menjelang tengah hari, adapun tengah hari adalah matahari berada di atas kepala manusia.

Pagi dimulai dari matahari terbit hingga siang hari. Siang hari di sini dimaksudkan sebagai tengah hari, yakni waktu antara pagi dan petang/sore.

Petang/sore adalah dimulai dari sesudah tengah hari sampai matahari terbenam.

Antara duha dan pagi mempunyai kesamaan yakni antara matahari terbenam sampai menjelang tengah hari (siang), tetapi dengan perbedaan, duha dimulai setelah matahari terbit sedangkan pagi dimulai dari matahari terbit.

Sebaliknya pengertian siang yang lebih sempit adalah waktu antara pagi dan petang/sore.

Untuk waktu malam di dalamnya tidak ada pembagian waktu seperti siang.

Fajar adalah dimulai dari adanya cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur pd menjelang matahari terbit, sedangkan subuh waktu antara terbit fajar dan menjelang terbit matahari.

Uraian penjelasan di atas, dapat kiranya memberikan gambaran yang sederhana, betapa waktu itu dibagi-bagi lagi menjadi beberapa bagian kecil waktu untuk kiranya kita dapat berperan di dalamnya.

Hikmah di antara pembagian waktu itu adalah dapat kiranya manusia mengambil pelajaran, bahwasanya waktu siang lebih banyak pembagian waktunya menjadi empat macam (duha, pagi, tengah hari/siang, dan petang/sore) sedangkan malam hanya satu macam pembagian (yakni subuh)

Kenapa kiranya siang lebih banyak macam pembagian waktu dibandingkan dengan malam?

Tentunya dengan pembagian macam waktu yang empat itu supaya ditujukan kepada manusia untuk memanfaatkan waktu siang yang begitu sempit dalam berusaha manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dengan adanya matahari, manusia dipermudah untuk membagi waktu siang menjadi empat macam pembagian.

Adapun malam hanyalah diperuntukkan manusia beristirahat.

Dengan pembagian siang yang dibagi lagi menjadi empat waktu tersebut menandakan bahwasanya manusia untuk lebih dapat mensiasati waktu siang yang terbatas.

Adapun sebaliknya, untuk malam hari yang tidak ada pembagian waktu di dalamnya dikarenakan manusia sulit untuk membagi waktu malam menjadi sub-bagian, karena alat yang membantu manusia membagi malam adalah tidak ada, tidak seperti siang hari yang dipermudah dengan adanya matahari. Sehingga waktu malam yang panjang dan tidak dibagi lagi menjadi satu bagian waktu yang lebih sempit menandakan sebagai rahmat Tuhan kepada manusia untuk kiranya pada malam hari dipergunakan untuk beristirahat.

waktu
wak.tu
[n] seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung: tidak seorang pun tahu apa yg akan terjadi pd — yg akan datang; (2) n lamanya (saat yg tertentu): pekerjaan itu harus selesai dl — lima hari; (3) n saat yg tertentu untuk melakukan sesuatu: — makan; (4) n kesempatan; tempo; peluang: sayang sekali — yg baik untuk mencetak gol tidak dipergunakannya; (5) p ketika, saat: — engkau datang, saya sedang mandi; (6) n hari (keadaan hari): — terang bulan; (7) n saat yg ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia: — Indonesia Barat

pukul
pu.kul
[n] ketuk (dng sesuatu yg keras atau berat, dipakai juga dl arti kiasan): kena — , kena ketuk (diketuk); (2) n ki kena rugi (marah, tipu, dsb): salah — , salah memukul (mengetuk); (3) n ki salah terima; salah menuduh dsb: sekali — , satu kali memukul (mengetuk); (4) n ki satu kali berbuat (bertindak, bekerja, dsb): tukang — , orang yg biasa memukul orang (dng menerima upah); samseng; jagoan; (5) v cak memukul (mengetuk dsb): pakailah taktik dan cari kelemahan lawan jangan asal –; (6) a cak ambil: — dulu, bayar belakang, barang diambil dulu, soal membayar urusan belakang
[n] saat yg menyatakan waktu: hari sudah — empat sore

jam
[n] (1) alat untuk mengukur waktu (spt arloji, lonceng dinding); (2) waktu yg lamanya 1/24 hari (dr sehari semalam); (3) saat tertentu, pd arloji jarumnya yg pendek menunjuk angka tertentu dan jarum panjang menunjuk angka 12 (pd lonceng disertai dng dentang suara bandul memukul logam atau bel); pukul: ia bangun — lima pagi; (4) waktu; saat: — berangkat kereta api senja ke Yogyakarta ialah pukul enam sore
[Lihat
jem]

pagi
pa.gi
[n] (1) bagian awal dr hari: ia bangun pukul 05.00 –; (2) waktu setelah matahari terbit hingga menjelang siang hari: ia bekerja keras dr — hingga petang; (3) ki awal; cepat: engkau terlalu — memberi komentar tt hal itu

petang
pe.tang
[n] waktu sesudah tengah hari (kira-kira dr pukul tiga sampai matahari terbenam); sore: pukul lima –; besok — , (besok petangnya), petang sesudah hari ini
[kl n] ke.pe.tang.an 1 n mata-mata; spion: beberapa orang ~ dan prajurit dibunuhnya; (2) a pandai mengenakan tipu muslihat; cerdik; licik: ada seorang prajurit terlalu amat ~ dan saktinya

sore
so.re
[n] petang: aku pulang ke Solo — ini

siang
si.ang
[n] (1) bagian hari yg terang (yaitu dr matahari terbit sampai terbenam): — kita bekerja, malam kita tidur; buta — , penglihatan yg kurang awas pd siang hari atau apabila terlampau terang; nyctalopia; (2) waktu antara pagi dng petang (kira-kira pukul 11.00-14.00): ia berangkat pukul 11.00, pulang lebih kurang pukul 13.00 –; (3) sudah lepas pagi atau hampir tengah hari; sudah lepas tengah hari atau hampir petang: ia datang — ketika kantor hampir ditutup; lekas berangkat ke sekolah, hari sudah —
[a] terang (dl arti bersih, tidak ada rumputnya dsb)

malam
ma.lam
[n] waktu setelah matahari terbenam hingga matahari terbit
[n] lilin (dipakai untuk membatik): pedagang itu menjual — , nila, dan benang
[n] massa plastis amorf yg berasal dr mineral, tumbuhan, dan hewan

subuh
su.buh
[n] (1) waktu antara terbit fajar dan menjelang terbit matahari; waktu subuh; (2) waktu salat wajib setelah terbit fajar sampai menjelang matahari terbit; (3) Isl (huruf awal ditulis kapital) salat wajib sebanyak dua rakaat pd waktu antara terbit fajar dan menjelang terbit matahari

magrib
mag.rib
[n] (1) barat arah matahari terbenam; (2) waktu matahari terbenam: ia tiba di Jakarta menjelang –; (3) waktu salat wajib menjelang matahari terbenam sampai lenyapnya sinar merah di ufuk barat; (4) Isl (huruf awal ditulis dng kapital) salat wajib sebanyak tiga rakaat pd waktu menjelang matahari terbenam sampai lenyapnya sinar merah di ufuk barat

duha
du.ha
[n Isl] waktu menjelang tengah hari (kurang lebih pukul 10.00): kira-kira pukul 10.00 ia melakukan salat —

fajar
fa.jar
[n] cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur pd menjelang matahari terbit


Referensi:
kamusbahasaindonesia.org, diakses hari Selasa tanggal 27 September 2011, pukul 9.28 WIB.

SEMOGA BERMANFAAT…

0 Responses to “WAKTU”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated