Alat Kontrol BBM

IMG_NEW

Penulis mengutip perkataan Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di Metrotvnews.com, yang ungkapnya, "Sehingga, disparitas harga antara BBM subsidi dan non-subsidi meningkatkan penyalahgunaan BBM subsidi." dan "Sampai Agustus, konsumsi BBM 71%. Nah, pelemahan rupiah ini membuat harga BBM naik lagi. Disparitas harga cenderung meningkatkan penyalahgunaan BBM."

Kata subsidi dalam kamusbahasaindonesia.org adalah:

subsidi
sub.si.di
[n] bantuan uang dsb kpd yayasan, perkumpulan, dsb (biasanya dr pihak pemerintah): panti asuhan mendapat — dr Pemerintah

Sehingga makna subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) adalah keberpihakan negara (dalam hal ini pemerintah) kepada kalangan rakyat Indonesia yang lemah. Jika subsidi diartikan sebagai bantuan.

Lain halnya jika subsidi sudah diartikan sebagai alat politik untuk menyenangkan semua rakyat Indonesia untuk menghindari gejolak ekonomi dan demonstran besar-besaran, yang masih belum terbukti benar adanya.

Memang benar adanya, bahwa bahan bakar minyak itu adalah milik seluruh rakyat Indonesia yang pemerintah tidak boleh membeda-bedakan siapa-siapa yang mendapatkan bahan bakar minyak tersebut.

Tetapi lain soalnya, jika dilihat dari sudut pandang ongkos produksi yang harus ditanggung oleh negara untuk mengolah bahan bakar minyak tersebut yang kemudian sampai pada pihak rakyat. Minyak milik rakyat, tetapi sampainya minyak di tangan rakyat yang memerlukan ongkos produksi bukan lagi murni milik sepenuhnya rakyat.

Apakah disamakan antara orang yang kuat/kaya dengan yang lemah/miskin?

Apakah disamakan orang yang mengemudikan mobil pribadinya secara sendirian dengan orang-orang yang bersama-sama berkendaraan di angkutan umum?

Maka dari itu semua,  keadilan proporsional yang harus ditekankan dalam kebijakan pemerintah untuk mengatur "pembatasan" siapa-siapa yang mendapatkan subsidi/bantuan BBM (Bahan Bahak Minyak).

Solusi dari semua keberpihakan itu adalah pembuatan alat kontrol BBM (Bahan Bakar Minyak) yang prinsip kerjanya adalah sama dengan katup/klep pada ban dalam mobil atau ban tubeless, tabung gas elpiji. Prinsip dasarnya adalah aliran gas/cairan tidak akan keluar tanpa adanya alat kontrol (sebagaimana pada gambar di atas)

Alat demikian bisa dipasangkan kepada mobil-mobil mewah, mobil yang ber-cc besar, atau pun sebaliknya di pasangkan pada mobil-mobil angkutan umum, sepeda motor, dan truk pembawa barang.

Penulis memperkirakan penggunaan alat kontrol demikian lebih mudah dipraktekkan dalam keseharian, daripada pembatasan BBM berupa nomor polisi ganjil/genap, atau plat merah, kuning, hitam.

Alat demikian bisa dipasang sewaktu kendaraan keluar dari pabrik atau dipasangkan pada waktu perpanjangan STNK atau pajak kendaraan.

Jika orang-orang kuat/kaya mengatakan bahwa tidak boleh ada diskriminasi dalam penggunaan BBM, dengan alasan mereka sudah membayar pajak, maka penulis mengatakan sebaliknya bahwa pembayaran pajak adalah kewajiban warga negara kepada negaranya, tetapi alat pembatasan (alat kontrol bbm) adalah WUJUD KEBERPIHAKAN DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL KEPADA SEKELILINGNYA.

Penggunaan sumber alam dan ekonomi yang tidak terkontrol bisa berdampak multi efek kepada aspek lainnya dan tugas negara/pemerintah sebagai lembaga yang mempunyai kewenangan untuk pembatasan penggunaan sumber alam dan ekonomi demikian.

Bilamana subsidi bbm benar-benar digunakan sebaik dan sebenarnya, maka penggunaan APBN dapat dipergunakan kepada aspek lainnya, seperti kesehatan, jaminan sosial, dan pendidikan.

Akhir tulisan ini, penulis hanya berharap dan berdoa, semoga kiranya pemerintah benar-benar bijak dalam mengelola sumber alam dan ekonomi di Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan wujud keberpihakannya kepada rakyat yang lemah (miskin).

DENGAN PENGUATAN RAKYAT MISKIN/LEMAH, MAKA NEGARA AKAN KUAT, tetapi jika penguatan hanya kepada orang-orang yang kuat/kaya, MAKA TUNGGULAH MEREKA BERMEGAH-MEGAHAN YANG AKHIRNYA NEGARA AKAN RUNTUH.

Ingatlah sejarah Firaun, revolusi Prancis, revolusi Republik Rakyat Cina, dan perjuangan kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang tercinta.

MERDEKA.

Sumber pustaka:

Konsumsi BBM Subsidi 2011 Capai 71 Persen

Ekonomi – / Kamis, 29 September 2011 18:52 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi sudah mencapai 71 persen dari kuota BBM subsidi 2011 sebesar 40,49 juta kiloliter.
Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Tubagus Haryono, Kamis (29/9), di Jakarta.
Menurut catatan BPH Migas, selama Agustus lalu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat harga BBM non-subsidi naik. Sehingga, disparitas harga antara BBM subsidi dan non-subsidi meningkatkan penyalahgunaan BBM subsidi.
"Sampai Agustus, konsumsi BBM 71%. Nah, pelemahan rupiah ini membuat harga BBM naik lagi. Disparitas harga cenderung meningkatkan penyalahgunaan BBM," ungkapnya. (MI/*)

referensi: www.metrotvnews.com, diakses hari Jumat tanggal 30 September 2011.

Senin, 30/05/2011 16:38 WIB
Tanpa Pembatasan, Konsumsi BBM Subsidi Capai 45,6 Juta KL di 2012 
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Pemerintah perkirakan volume konsumsi BBM subsidi di 2012 bisa mencapai 45,6 juta kiloliter (KL) jika tidak dilakukan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi. Sedangkan jika melakukan pengaturan pemberian BBM bersubsidi maka kuotanya hanya 41,7 juta KL.
Hal tersebut disampaikan Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (30/5/2011).
"Untuk 2012 BBM bersubsidi kita siapkan 2 opsi kalau dilakukan pembatasan BBM bersubsidi maka volumenya 41,7 juta kiloliter. Kalau tidak pakai pembatasan maka bisa mencapai 45,6 juta kiloliter," tegasnya.
Evita menyebutkan dari kisaran 41,7-45,6 juta KL konsumsi volume BBM dan BBN bersubsidi, kuota premium disediakan sebanyak 25,2-27,8 juta KL, kerosene sebesar 2,1 juta KL, solar 14,4-15,7 juta KL. Sedangkan konsumsi elpiji dipatok sebesar 3,6 juta ton.
Menurut Evita, asumsi kuota konsumsi BBM subsidi di 2012 ini mengacu pada realisasi konsumsi di 2011.
Tahun ini, (realisasi 22 Mei 2011), dari kuota BBM subsidi sebesar 38,59 juta KL, telah terealisasi 15,46 juta KL.
Rinciannya, premium sudah dikonsumsi 9,37 juta KL dari kuota 23,19 juta KL, kerosine dikonsumsi 0,74 juta KL dari kuotanya 2,32 juta KL, solar 5,35 juta KL dari kuota 13,08 juta KL. Sementara elpiji terealisasi 1,05 juta ton dari kuota 3,52 juta ton. (nia/dnl)

referensi: finance.detik.com, diakses hari Jumat tanggal 30 September 2011, pukul 7.53 WIB.

BBM Subsidi Bertahan Sampai Kapan? Rini Sutendi dan Yuli Sasmito 29/09/2011 06:13

Liputan6.com, Jakarta: Penggunaan BBM bersubsidi terus bertambah. Pemerintah mencatat, hingga September 2011 subsidi BBM telah mencapai Rp 83,8 triliun dari jatah anggaran subsidi BBM tahun ini Rp 129,7 triliun.
Belum ada tindakan konkrit dari pemerintah untuk mengendalikan, apakah akan segera menaikkan harga atau memberlakukan pembatasan konsumsi BBM subsidi. Bila kondisi tetap dibiarkan, subsidi akan menjadi masalah. Apalagi pertumbuhan jumlah kendaraan tiap tahun mencapai lebih dari enam persen yang nantinya akan membutuhkan energi alternatif, murah dan tak perlu subsidi.

Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh mengatakan yang tak kalah pentingnya adalah kerja sama seluruh masyarakat dalam mengawasi dan menggunakan quota BBM secara tepat.
Sementara itu, pengamat migas Kurtubi mengatakan penanganan masalah BBM harus ada program yang segera dilakukan dan nyata. Sebagai contoh adalah pengalihan BBM untuk transportasi dengan energi gas.
Subsidi BBM yang mencapai lebih dari 100 triliun rupiah itu sebagian besar terbakar sia-sia dalam kemacetan lalu lintas di kota-kota besar setiap hari. (Vin)

referensi: berita.liputan6.com, diakses hari Jumat tanggal 30 September 2011, pukul 7.58 WIB.

0 Responses to “Alat Kontrol BBM”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated