BARANG BUKTI DALAM PERSIDANGAN PENGADILAN

Bagaimana pandangan seperti ini menurut Anda, terhadap barang bukti yang diletakkan di meja majelis hakim pengadilan negeri?

281120112640

241120112639

Apakah terkesan biasa saja?

Apakah terlihat aneh, kok katanya sebagai "Yang Mulia" tetapi bisa saja mejanya "Yang Mulia" ditaruh barang bukti, padahal kan yang harus membuktikan perkara pidana adalah tugas dan kewenangan dari penuntut umum?

Apakah pula terlihat, seakan-akan majelis hakim yang harus membuktikan perkara pidana, bukannya memberikan keadilan dan tidak berpihak sebelah?

Pertanyaan-pertanyaan demikian yang timbul dalam sanubari penulis, mungkin bisa saja pertanyaan dari pembaca berlainan, silahkan saja. "Wong" ini negara demokrasi.

Tetapi penulis hanya ingin memberikan wacana dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga kiranya dapat dibaca, syukur-syukur kalau diterima dan sependapat. aamiin.

Berdasarkan Pasal 44 KUHAP:

(1) Benda sitaan disimpan dalam rumah penyimpanan benda sitaan negara.

(2) Penyimpanan benda sitaan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tanggung jawab atasnya ada pada pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan dan benda tersebut dilarang untuk dipergunakan oleh siapapun juga.

Penjelasan:

Ayat (1)

Selama belum ada rumah penyimpanan benda sitaan negara di tempat yang bersangkutan, penyimpanan benda sitaan tersebut dapat dilakukan di kantor kepolisian negara Republik Indonesia, di kantor kejaksaan negeri, di kantor pengadilan negeri, di gedung bank pemerintah dan dalam keadaan memaksa di tempat penyimpanan lain atau tetap semula benda itu disita.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Dalam praktek peradilan, barang bukti tidak selamanya dapat dikenakan atau pun dibebani dengan penyitaan, karena sifat dari barang bukti adalah hanya untuk memperkuat pembuktian yang dilakukan oleh para pihak, baik itu dari pihak penuntut umum, atau pun dari pihak terdakwa.

Selain itu, barang bukti itu adalah di luar dari alat bukti, sebagaimana Pasal 184 KUHAP, yaitu:

(1) Alat bukti yang sah ialah: a. keterangan saksi, b. keterangan ahli, c. surat, d. petunjuk, e. keternagan terdakwa.

(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Selama praktek peradilan, memang benar adanya penyimpanan benda sitaan dilakukan pada tiap-tiap tingkat pemeriksaan peradilan, yaitu bila di tingkat penyelidikan dan penyidikan disimpan di kepolisian, jika sudah pada tahap penuntutan disimpan di kejaksaan negeri, sedangkan jika sudah pada tahap persidangan disimpan di pengadilan negeri.

Mungkin saja, hal yang sudah biasa dapat dibenarkan dikemudian hari, tetapi belum tentu hal yang benar menjadi hal yang biasa dikemudian hari.

Dan benar pula, selama ini rumah penyimpanan benda sitaan negara belum ada, ini sepengetahuan penulis sebaliknya jika pembaca sudah mendapatkan informasi terbaru dan syukur-syukur jika informasi tersebut dapat dibagikan kepada penulis. Terima kasih sebelumnya.

Tetapi penulis bukan membicarakan apakah sudah ada RUPBASAN (Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara), tetapi terhadap penempatan barang bukti di muka persidangan dan dimanakah letak tanggung jawabnya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Pasal 30:

(1) RUPBASAN dikelola oleh Departemen Kehakiman.

(2) Tanggung jawab secara juridis atas benda sitaan tersebut ada pada pejabat sesuai dengan tingkat pemeriksaan.

(3) Tanggung jawab secara fisik atas benda sitaan tersebut ada pada Kepala RUPBASAN.

Secara teoritis di peraturan perundangan-undangan yang telah dijabarkan di atas sangatlah bagus dan masuk akal, tetapi permasalahannya bukan terletak pada peraturan demikian, tetapi justru pada praktek hukum keseharian.

Selama ini, barang bukti beserta berkas perkara dan termasuk terdakwa, secara juridis menjadi tanggung jawab pengadilan jika sudah dilimpahkan oleh penuntut umum, tetapi hanya barang bukti dan berkas perkara yang benar-benar dilimpahkan dan menjadi tanggung jawab secara fisik pada pengadilan, sedangkan tanggung jawab secara fisik atas terdakwa terletak pada Kepala Rutan (Rumah Tahanan Negara).

Memang sudah idial atas tanggung jawab secara juridis dan fisik atas tahanan terdakwa baik itu dalam peraturan perundangan-undangan atau pun dalam praktek keseharian.

Tetapi sebaliknya, terhadap barang bukti tidaklah demikian.

Barang bukti yang dilimpahkan ke pengadilan negeri oleh penuntut umum menjadi tanggung jawab juridis dan fisik, karena barang bukti tersebut disimpan di pengadilan negeri.

Setelah penjabaran demikian, penulis hanya ingin menekankan kepada fungsi utama dari pengadilan dan dengan adanya kemajuan teknologi sekarang ini.

Apakah masih relevan, barang bukti disimpan pada pengadilan negeri?

Jika pertanyaan demikian dihubungkan dengan fungsi pokok dan utama dari pengadilan adalah memberikan keadilan yang sifatnya abstrak dan hanya berupa lembaran-lembaran putusan, sedangkan eksekutor dari putusan tersebut adalah penuntut umum, maka jawaban dari pertanyaan tersebut adalah sudah tidak lagi relevan dengan keadaan jaman yang serba canggih, yakni sudah adanya foto untuk memotret keadaan, video, dan lain-lainnya.

Tanggung jawab pengadilan hanyalah terletak pada tanggung jawab juridis semata, dan sudah tidak pada tempatnya lagi untuk pengadilan bertanggung jawab secara fisik, baik itu terhadap barang bukti maupun terdakwa.

Jika dikaitkan dengan martabat pengadilan terutama majelis hakim, sudah tidak sewajarnya pula penempatan dan peletakan barang bukti di atas meja majelis hakim, yang katanya sebagai "Yang Mulia", sudah sepatutnya pula meja majelis hakim itu bersih dari barang bukti untuk memperlihatkan KETIDAKBERPIHAKAN kepada salah satu pihak.

SUDAH SEPATUTNYA MULAI SEKARANG, MEJA MAJELIS HAKIM "YANG MULIA" BERSIH DAN STERIL DARI BARANG BUKTI.

Semoga saja tulisan "nyeleneh" ini dapat memancing adrenalin pemikiran-pemikiran yang berilian dari pembaca-pembaca budiman.

TERIMA KASIH.

 

0 Responses to “BARANG BUKTI DALAM PERSIDANGAN PENGADILAN”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated