BESI DAN API

“Diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariah, bahwa pada saat menjelang tidurnya Rasullah membaca Al-Musabbihat (surat-surat yang diawali dengan tasbih) dan bersabda, “Di dalamnya terdapat ayat yang lebih utama daripada seribu ayat, yaitu firman-Nya, ‘Huwal awwalu wal akhiru’.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Maksud hadist tersebut adalah ayat ketiga dari Surat Al-Hadid.

Berdasarkan hadist tersebut di atas, penulis mencoba menggali pemahaman dari sudut pandang membaca Al-Quran secara numerik, sebagai berikut:

  • Surat Al Hadid terdiri dari 29 ayat dan dinamakan “Al Hadid”, diambil dari perkataan “Al Hadid” yang terdapat pada ayat 25 surat tersebut.
  • Surat Al Hadid adalah surat yang ke-57 pada Al Quran dengan jumlah ayat 29.

– Jika angka 57 dan 29 dijumlahkan akan diperoleh 86, yang jika dilihat angka 86 pada Al Quran menuju kepada surat Ath Thariq, dengan arti “yang datang di malam hari”;

– Jika angka 86 ( 57 + 29 = 86) dari penjumlahan angka pada surat Al Hadid (57) dengan jumlah surat Al Hadid (29) yang kemudian dijumlah kembali dengan angka 25 (penamaan surat Al Hadid yang diambil dari ayat ke-25 pada surat tersebut), maka diperoleh angka 111 (86 + 25 = 111), dan angka 111 merujuk kepada surat Al Lahab (dengan arti gejolak api);

  • Apakah hubungan antara besi dengan gejolak api? Sudah barang tentu api hanya akan bermanfaat kepada manusia setelah besi diolah dengan bantuan api. Sehingga penciptaan besi dan gejolak api masih dapat diteliti kembali oleh manusia.
  • Jika 57 (nomor urut surat Al Hadid) dijumlahkan dengan angka 29 (jumlah ayat dari surat Al Hadid) diperoleh angka 86 (57 + 29 = 86) yang merujuk kepada surat Ath Thariq (yang datang di malam hari), selanjutnya dijumlahkan masing-masing, yaitu 8 + 6, diperoleh angka 14, dan dijumlahkan kembali masing-masing, 1 + 4, diperoleh angka 5. Selanjutnya angka 5 dijumlahkan kepada angka 7 (diperoleh dari penjumlah ayat 25 asal dari penamaan Al Hadid (2 + 5 = 7)), dan diperoleh angka 12 (5 + 7 = 12), kemudian angka 12 dijumlahkan masing-masing diperoleh angka 3 ( 1 + 2 = 3). Atau angka 57 sebagai nomor urut surat Al Hadid dijumlahkan masing-masing diperoleh angka 12 (5 + 7 = 12) dan dijumlahkan kembali diperoleh angka 3 (1 + 2 = 3). Atau denga cara lain, 57 (5 + 7 = 12) dan 29 (2 + 9 = 11), selanjutnya angka 12 dan 11 dijumlah menjadi angka 23 (2 + 3 = 5), selanjutnya angka 5 dijumlahkan dengan angka 7 (dari 25 dijumlahkan masing-masing <2 + 5 = 7>, akhirnya angka 5 dijumlahkan dengan angka 7 diperoleh angka 12, ditambahkan kembali masing-masing, hasil akhir diperoleh angka 3.

– Apakah hubungan antara “yang datang di malam hari” dengan angka 3? Ternyata pada hadist di atas diperlihatkan, yaitu “pada saat menjelang tidurnya, Rasullah membaca Al-Musabbihat … ‘Huwal awwalu wal akhiru.” Yang hadist ini merujuk kepada surat Al Hadid ayat ke-3. kembali lagi kepada angka ke-3.

– Sudah barang tentu yang dimaksud menjelang tidur adalah pada malam hari (ada hubunganya dengan “yang datang di malam hari”) dan yang dibacanya adalah ayat ke-3 dari surat Al Hadid.

  • Atau untuk memperoleh angka 3 dapat juga diperoleh dengan angka 111 (dari 86 + 25 = 111), dan masing-masing dijumlahkan (1 + 1 + 1), dan diperoleh angka
  • Angka-angka 2, 3, dan 5, kerap muncul dari perhitungan-perhitungan di atas, seperti angka 2 yang diperoleh dari 29, 2 + 9 = 11. selanjutnya 11, 1 + 1 = <2>. Untuk angka 3 diperoleh dari 57, 5 + 7 = 12. Selanjutnya 12, 1 + 2 = <3>. Dan angka 2 dan angka 3 ditambahkan diperoleh angka <5>.

– Ternyata angka 2, angka 3, dan angka 5 dalam surat Al Hadid mempunyai hubungan, yakni perihal “kepunyaan kerajaan langit dan bumi” (pada ayat ke-2 dan ke-3) berhubungan dengan “Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan yang Bathin” (pada ayat ke-3). Untuk “kerjaan langit” berhubungan dengan “awal dan akhir”, sedangkan “kerajaan bumi” berhubngan dengan “zhahir dan bathin”;

– Sedangkan untuk “Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu” berhubungan dengan “”Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” dan berhubungan juga dengan “kepada Allah-lah dikembalikan segala sesuatu”;

– Hal ini menegaskan bahwa untuk menghidupkan dan mematikan sudah tentu harus terlebih dahulu harus kuasa atasnya yang mana hal “kuasa” harus terlebih dahulu “mengetahui”, dan hal “Maha Mengetahui segala sesuatu” hanya kepada Allah semua itu kembali;

– Jadi perihal “Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala sesuatu” adalah sebagai penegasan yang dimaksud dari “Dia” itu adalah Allah, baik sebagai yang menghidupkan dan mematikan, berkuasa, atau pun sebagai mengetahui.

  • Kesimpulan dari pembahasan hadist tersebut di atas adalah antara hadist dengan Al Quran mempunyai keterkaitan erat, yang mana keterkaitan tersebut baru dibahas dari “satu sisi” saja, yakni dari penelaahan sudut pandang numerik dengan cara penjumlahan. Dari penelahaan demikian diperoleh suatu “rahasia” yang mendalam, yang semakin dikaji akan semakin dalam dan tidak terbatas.

0 Responses to “BESI DAN API”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 98,298 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated