MODUS “DUGAAN KORUPSI” UNTUK MELENGSERKAN PEJABAT PUBLIK

Mencermati pemberitaan yang melanda pejabat publik di negara ini menimbulkan teori-teori konspirasi, yang tentunya belum tentu benar. Walaupun demikian, patutlah untuk disimak agar musibah yang menimpa saudara sebangsa bisa dijadikan pelajaran bagi anak bangsa agar menjadi lebih baik dalam menjalani amanah berbangsa dan bernegara.

BERITA PERTAMA:

“Seperti diketahui, KPK pada Selasa (13/8/2013) malam menangkap Rudi di rumah dinasnya di Jalan Brawijaya VIII/30 Jakarta Selatan. Rudi ditangkap karena diduga menerima suap dari Simon Gunawan Tanjaya, seorang petinggi perusahaan trader minyak asal Singapura, Kernel Oil, Pte, Ltd.

Jadi, Anda terjatuh?
Saya jatuh bukan di medan perang, melainkan oleh orang-orang yang berada di samping saya. Saya berjuang sendiri, bekerja dari jam setengah enam pagi sampai tengah malam tidak berarti apa-apa dengan adanya kasus ini. Saya dihantam kiri kanan, depan belakang, dan luar dalam.
Benar ada ancaman kepada diri Anda?
Sebelum ditangkap, saya menerima ancaman pada 2-3 bulan sebelumnya. Ada isu demo, mengancam akan mendongkel saya dari SKK Migas. Uang yang saya kejar itu hampir mencapai Rp 450 triliun. Saya sudah berusaha untuk merapikan industri ini tetapi ada angin kecil seperti ini. Saya ini sedang membenahi tata kelola migas, tentu banyak yang merasa terganggu dengan apa yang saya lakukan. Yang jelas saya ini tidak pernah korupsi, tidak ikut mengurusi proyek-proyek. Tekanan muncul dari mana-mana, lihat sendiri kalau di DPR seperti apa ke saya. Tetapi, ternyata ditembaknya dari samping.
Mengapa bisa ada uang di rumah Anda?
Semua berawal dari lapangan golf. Kalau saya tidak main golf, pasti juga tidak akan seperti ini (sambil mengelus dada). Yang penting saya tidak korupsi, tidak peras orang. Memang salah saya ada orang yang kasih, saya terima.
Saya bukan malaikat, saya bukan orang suci. Namun, saya tidak pernah memeras kontraktor atau meminta uang kepada mereka. Kalau sekarang ada yang memberi gratifikasi dalam jumlah yang besar, saya pun tidak tahu, dan tahu-tahu ada di rumah saya, ya bagaimana.
Anda tahu kedatangan KPK?
Saya juga tidak tahu. Pada malam kejadian itu, tiba-tiba KPK datang ke rumah saya. Saya tidak tahu kalau ada uang di dalam tas. Uang itu ditaruh di tas golf dan dia (Deviardi alias Ardi) kan datang ke rumah saya hanya sebatas untuk ngobrol. Ketika dia (Ardi) di rumah, KPK sudah langsung di pintu.
Di media beredar kabar yang membawa uang sudah pergi dan bapak terima uang itu?
Saya tidak tahu apa-apa. Selama ini saya tidak pernah terima uang sebesar itu. Saya tidak tahu ada uang. Uang ditaruh di tas golf dan tas golf tersebut diletakkan di ruangan saya karena kamingobrol di rumah. Tidak ada kaitannya sama proyek. Jadi, kabar dari Johan Budi itu salah semua.
Bapak kenal Komisaris PT Kernel Oil (Simon G Tanjaya)?
Saya tidak kenal Simon. Saya belum pernah ketemu dengan Simon, tetapi saya memang sudah lama kenal dengan orang Kernel Oil yang di Singapura. Mereka suka konsultasi hal-hal teknis terkait dengan minyak. Pertemuan saya dengan orang Kernel Oil di Singapura bukan untuk proyek ini itu, melainkan murni soal teknis yang kebetulan waktunya hampir bersamaan. Tetapi tidak ada omongan soal itu (uang suap tender kondensat).” (
Rudi Rubiandini: Saya "Ditembak" dari Samping…)

BERITA KEDUA:

“Rabu malam saya baru sampai dirumah sekitar jam 8 lewat, mandi ganti pakaian dan berbicara dengan istri, saya diberitahu ada tamu oleh penjaga rumah kediaman. Saya menuju ke pintu mau membuka pintu lalu ada ketukan, dan pintu saya buka, dan ada petugas dari KPK memperkenalkan diri dengan mengatakan ada dua orang lagi duduk di teras halaman depan, dan diminta menyaksikan lalu saya hanya kenal dengan Chairun Nisa, yang pernah SMS beberapa waktu lalu mau bertamu ke rumah, saya jawab dengan SMS, silahkan tapi jangan malam-malam karena saya ngantuk.
Ketika saya menyaksikan kedua orang itu digeledah, dari laki-laki yang tidak saya kenal itu didapati beberapa amplop, sedangkan dari Chairun Nisa hanya didapati beberapa buah HP. Sedangkan satu orang lagi laki-laki, saya tidak pernah melihat katanya menunggu di mobil.
Saya merasa saya tidak pernah tertangkap tangan! Selanjutnya saya diminta ke kantor KPK untuk menjelaskan kejadian itu yang terjadi di teras rumah saya itu. Saya tidak tahu latar belakang kejadian. Saya tidak pernah meminta uang atau janji sepeserpun! Yang kemudian saya ditetapkan sebagai tersangka.” (
Surat Akil dari Bui KPK untuk MK)

Dari pemberitaan tersebut di atas, dapat ditarik benang merahnya sebagai berikut:

1. Penangkapan terjadi di rumah yang didiami oleh tersangka;

2. Tersangka menerangkan tidak tahu ada uang yang terkait dengan penangkapan dirinya;

3. Sebelum penangkapan tersangka telah ada peringatan atau ancaman kepada diri tersangka;

4. Pola kehidupan tersangka telah dipola dan ada perubahan pola kegiatan sehari-hari dari biasanya.

Dari keempat benang merah tersebut dapatlah diambil pelajaran bagi para pejabat publik, yakni: Pertama, harus bersikap hati-hati dan kalau perlu hidup bagaikan di menara gading. Dalam artian tidak tersentuh dan berkomunikasi dengan para pihak yang dapat diduga akan mempengaruhi tugas pokok dan fungsi pejabat publik.

Kedua, jangan mudah menerima tamu di rumah kediaman dan bertemu para pihak yang akan diduga mempengaruhi tugas pokok dan fungsi pejabat publik di luar kantor tempat bertugas.

Ketiga, jangan merubah pola hidup yang telah dijalani sebelum menjabat pejabat publik, dan hindari pola hidup baru yang akan mempengaruhi tugas pokok dan fungsi pejabat publik.

Keempat, hati-hati dengan lingkungan kerja sekitar pejabat publik. Oleh karena pejabat publik baru memasuki lingkungan baru yang di dalamnya telah terdapat individu-individu yang mempunyai pola kerja tersendiri. Individu-individu tersebut telah terbentuk dari awal kariernya. Keberuntungan bagi pejabat publik yang memasuki ruang lingkungan kerja yang bersih, tetapi kemalangan bagi pejabat publik yang memasuki ruang lingkungan kerja yang korup.

PUSTAKA:

1leng·ser /léngsér/ v, me·leng·ser v 1 turun dr jabatan: mantan Presiden kedua RI — setelah mendapat tekanan dr berbagai pihak, terutama mahasiswa; 2 menggelincir ke bawah atau ke sisi; meluncur: matahari telah ~; sarangnya ~;

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php, akses Selasa, 08 Oktober 2013, 10.38 WIB

Rudi Rubiandini: Saya "Ditembak" dari Samping… : http://nasional.kompas.com/read/2013/08/26/1841098/Rudi.Rubiandini.Saya.Ditembak.dari.Samping., akses Selasa, 08 Oktober 2013, 10.40 WIB.

Surat Akil dari Bui KPK untuk MK: http://news.detik.com/read/2013/10/06/215329/2379345/10/2/surat-akil-dari-bui-kpk-untuk-mk, akses Selasa, 08 Oktober 2013, 10.44 WIB

0 Responses to “MODUS “DUGAAN KORUPSI” UNTUK MELENGSERKAN PEJABAT PUBLIK”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated