KELALAIAN TERDAKWA BUKAN SEBAB PENGHUKUMAN DALAM PASAL 406 AYAT (1) KUHP

Suatu perbuatan sengaja harus ada motif, yaitu kenapa seseorang melakukan perbuatan itu, harus terungkap dalam pembuktian di fakta dan keadaan hukum pertimbangan putusan majelis hakim terhadap tindak pidana penghancuran atau perusakan barang.

Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 179 K/PID/2011 tanggal 28 Februari 2011 dengan terdakwa MUH. FAISAL alias FAISAL bin MAMMA, yang menyatakan Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dan membebaskan Terdakwa dari dakwaan Penuntut Umum. Dengan pertimbangannya: “Tindakan terdakwa menyemprot dengan menggunakan racun Gramason di areal sawah sendiri, bukan tindakan melawan hukum, sedangkan rusak dan matinya tanaman padi milik korban (disebabkan terkena obat rumput akibat alam karena adanya angin), tidak dikehendaki/dimaksud oleh Terdakwa, oleh karena itu tidak ada kesengajaan.” Dan “Kurangnya penghati-hati atau penduga-duga bahwa ada kemungkinan obat/racun Gramason yang disemprotkan Terdakwa di areal sawah sendiri dapat merembet ke persawahan tetangga disebelahnya tidak memenuhi maksud unsur ‘dengan sengaja’ dalam rumusan delit Pasal 406 ayat (1) KUHP yang didakwakan kepada Terdakwa.” Putusan demikian terdapat kaidah hukum: 1. Pengertian sengaja harus ditujukan kepada objek yang dirusak; 2. Suatu perbuatan sengaja harus ada motivasi yang melatarbelakangi perbuatan itu; dan 3. Kelalaian Terdakwa tidak memenuhi maksud unsur “dengan sengaja” dan “melawan hukum”.

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung tersebut, dikemudian hari majelis hakim dalam tingkat pertama akan lebih teliti dalam pembuktian unsur sengaja dalam Pasal 406 KUHP. Oleh karena, dalam praktek peradilan telah menjadi kelaziman yang dimaksud dengan unsur “dengan sengaja” melalui dimensi-dimensi sebagai berikut:

1. Bahwa pembentuk undang-undang sendiri dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak memberi penjelasan tentang apa yang dimaksud “dengan sengaja” atau “opzet”, di lain pihak Prof. Van HATTUM secara tegas menyebutkan “opzet” adalah kehendak untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan-tindakan seperti yang dilarang atau diharuskan dalam undang-undang.

2. Bahwa menurut MEMORIE VAN TOELICHTING (MvT) yang dimaksud “dengan sengaja” atau “opzet” adalah “willen en witens” dalam artian pembuat harus menghendaki (willen) melakukan perbuatan tersebut dan juga harus mengerti (wetten) akan akibat daripada perbuatan itu.

3. Bahwa menurut doktrin pengertian “opzet” telah dikembangkan dalam beberapa teori, yakni:

– Teori Kehendak (wills theory) dari VON HIPPEL mengatakan bahwa opzet itu sebagai “De Will” atau kehendak, dengan alasan karena tingkah laku (handeling) itu merupakan suatu pernyataan kehendak yang mana kehendak itu dapat ditujukan kepada suatu perbuatan tertentu (formalee opzet) yang kesemuanya dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang.

– Teori Bayangan/Pengetahuan (voorstellings theory) dari FRANK atau “waarschijnljkheids theory” atau “Teori Praduga/Teori Prakiraan” dari Prof. Van BEMMELEN dan POMPE yang mengatakan bahwa perbuatan itu memang dikehendaki pembuat, akan tetapi akibat dari pada perbuatan tersebut paling jauh hanyalah dapat diharapkan akan terjadi oleh pembuat, setidaknya masalah tersebut akan dapat dibayangkan akan terjadi oleh pembuat.

4. Bahwa ditinjau dari coraknya atau bentuknya menurut Prof. Van HAMMEL, maka dikenal 3 (tiga) bentuk dari “opzet” yaitu:

– Kesengajaan sebagai maksud (OPZET ALS OOGMERK), pada DELIK FORMIL berorientasi adanya perbuatan yang dikehendaki dan dimaksud oleh pembuat, sedangkan pada DELIK MATERIIL berorientasi kepada akibat itu dikehendaki dan dimaksud oleh si pembuat.

– Kesengajaan sebagai kepastian atau keharusan (OPZET BIJ ZEKERHEIDS BEWUSTZIJN), yakni apabila si pelaku dengan perbuatannya tidak bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delict, akan tetapi ia tahu benar, bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu.

– Kesengajaan sebagai kesadaran akan kemungkinan (OPZET BIJ MOGELIJKHEIDS-BEWUSTZIJ atau VOORWAARDELIJK OPZET atau DOLUS EVENTUALIS), yakni pada dasarnya bentuk kesengajaan ini timbul apabila seseorang melakukan sesuatu perbuatan dan menimbulkan sesuatu akibat tertentu. Dalam hal ini orang tersebut mempunyai opzet sebagai tujuan, akan tetapi ia insyaf guna mencapai maksudnya itu kemungkiinan menimbulkan akibat lain yang juga dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang.

Sehingga batas antara kelalaian dengan kesengajaan sebagai kepastian atau keharusan mempunyai dinding pemisah yang tipis. Hal ini sebagai pekerjaan rumah bagi hakim untuk lebih profesional dalam acara pembuktian dalam kasus Pasal 406 KUHP.

Lebih lanjut, sengaja yang dimaksud adalah sengaja yang benar-benar harus ditujukan kepada objek yang dirusak serta adanya motivasi yang melatarbelakangi perbuatan itu, walaupun dalam hukum pidana pembuktian tentang motivasi bukanlah sebagai pembuktian dalam unsur pasal yang didakwakan melainkan sebagai pertimbangan hal yang memberatkan atau hal yang meringankan dalam putusan majelis hakim.

Bilamana putusan Mahkamah Agung RI demikian dijadikan yurisprudensi bagi kalangan hakim kemudian hari, maka yang harus diingat adalah kaidah hukum dalam putusan tersebut adalah tentang Pasal 406 ayat (1) KUHP, yaitu tentang menghancurkan atau merusakkan barang, bukanlah tentang kelalaian dalam kejahatan terhadap jiwa orang.

DAFTAR PUSTAKA:

Varia Peradilan, Majalah Hukum Tahun XXVII No. 311 Oktober 2011

0 Responses to “KELALAIAN TERDAKWA BUKAN SEBAB PENGHUKUMAN DALAM PASAL 406 AYAT (1) KUHP”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 98,298 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated