ANAK SEBAGAI KORBAN TINDAK PIDANA

Anak sebagai insan yang lahir di dunia dengan segala kelemahannya, seringkali dapat menjadi korban dalam pergaulan masyarakat hukum. Baik itu di lingkungan keluarga ataupun lingkungan masyarakat sekitarnya.

Perlindungan khusus hendak diberikan oleh pemerintah kepada anak. Anak sebagai generasi penerus seyogianya diberikan perlindungan dari perilaku menyimpang, seperti tindak pidana, kejahatan, kekerasan dan tekanan fisik, jiwa dan raganya.

Bagaimana jika anak sebagai korban dalam suatu tindak pidana yang dilakukan dalam lingkungan keluarga?

Pemerintah Indonesia telah mengundangkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, serta juga telah mengundangkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Kedua undang-undang tersebut di atas, telah memberikan perlindungan kepada anak bilamana telah menjadi korban dari suatu tindak pidana (kejahatan/kriminal).

Permasalahan kemudian timbul dengan pertanyaan, peraturan manakah yang akan digunakan oleh penegak hukum Indonesia.

Bilamana anak menjadi korban dari suatu tindak pidana, maka akan terjadi “satu perbuatan termasuk dalam beberapa ketentuan pidana.” Istilah hukumnya adalah concursus idealis, atau dapat pula disebut gabungan satu perbuatan, atau perbarengan peraturan.

Masalah kemudian muncul kembali, bagaimana bentuk dakwaan yang akan disusun oleh Penuntut Umum untuk mendakwa Terdakwa sebagai pelaku atas korbannya berupa anak.

Pasal 63 KUHP hanyalah mengatur mengenai hukuman apa yang dapat dikenakan/dijatuhkan kepada Terdakwa yang terbukti perbuatannya sebagaimana dalam surat dakwaan.

Bilamana Penuntut Umum mendakwa Terdakwa dengan Dakwaan Kumulatif, maka Penuntut Umum mempunyai beban psikis untuk membuktikan semua dakwaannya. Karena bilamana salah satu dakwaan dalam Dakwaan Kumulatif tidak terbukti akan beresiko Terdakwa bebas dari jeratan hukum.

Tetapi, bilamana Penuntut Umum hanya mendakwa dakwaan dengan bentuk Dakwaan Tunggal, maka Pasal 63 KUHP tidak dapat diterapkan.

Dengan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa suatu dilema hukum apa yang telah diatur tidak mesti terwujud sebagaimana yang diharapkan oleh pembentuk undang-undang. Praktek lapangan kadang kala menghambat atau tidak dapat diterapkannya suatu kaidah hukum.

Tetapi pesan yang dapat ditangkap adalah hati-hati terhadap para orang dewasa yang melakukan tindak pidana kepada anak yang menjadi korban. Peraturan pidana yang DAPAT dikenakan kepada Anda  (pelaku kejahatan terhadap anak) adalah banyak peraturan, dan berdoalah bilamana karena suatu hal yang tidak diinginkan Anda menjadi Terdakwa untuk kiranya Penuntut Umum tidak mendakwa Anda dengan Dakwaan Kumulatif.

 

 

0 Responses to “ANAK SEBAGAI KORBAN TINDAK PIDANA”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Jumlah Pengunjung

  • 97,602 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated