CEMBURU ATAU NAFSU

 

Wajah yang kelabu dan menyesal, tergambar dari Fulan yang menjadi terdakwa.

Penyesalan terdalam, Fulan dengan mata berkaca-kaca, “Ia, pak hakim. Saya cemburu melihat ia bersama orang lain,” imbuh Fulan.

“Padahal saya cinta sama dia,” dengan linang air mata menyertai ucapannya.

Selesai Fulan bercerita hubungannya dengan korban, pak hakim mengetahui akar permasalahan dari itu semua, yaitu nafsu. Pak hakim dengan suara yang berwibawa berkata, “Ada perbedaan antara nafsu dengan cemburu, hai Fulan.” Dengan nada agak tinggi.

“Cemburu itu berasal dari ikatan nikah, adapun cemburu kamu kepada si korban bukan dari ikatan yang halal, tetapi nafsu yang tidak berasal dari cinta,” kata pak hakim.

“Kalau kamu cinta, nikahi dia. Sehingga dia jadi halal bagi kamu, hai Fulan,” dengan geramnya pak hakim berkata-kata.

Kisah di atas adalah kejadian di ruang sidang. Adakalanya manusia khilaf membedakan antara cemburu, nafsu, dan cinta.

Nafsu diperlukan bagi manusia untuk menjadi hidup. Nafsu adalah dorongan bagi manusia untuk mengarungi kehidupan, tetapi nafsu yang tidak berasal dari keinginan halal bisa berakibat fatal bagi manusia dalam mengarungi kehidupan ini.

Cemburu yang bukan berasal dari ikatan halal adalah bukan cinta, tetapi nafsu belaka yang tidak dihiasi dengan cinta.

(refleksi kehidupan untuk menjadi lebih baik)

 

Referensi: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php, akses tanggal 29 April 2016.

cem·bu·ru a 1 merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb; sirik: ia — melihat madunya berjalan berduaan dng suaminya; 2 kurang percaya; curiga (krn iri hati): istrinya selalu — kalau suaminya pulang terlambat;
 buta sangat cemburu;
ber·cem·bu·ru v merasa cemburu;
ber·cem·bu·ru·an v saling bercemburu; saling mencemburui;
men·cem·bu·rui v cemburu kpd;
men·cem·bu·ru·kan v 1 cemburu kpd atau tt sesuatu; 2 menimbulkan rasa cemburu (curiga);
cem·bu·ru·an v 1 saling cemburu; 2 mudah cemburu;
ke·cem·bu·ru·an n 1 keirihatian; kesirikan; 2 kecurigaan; kekurangpercayaan

naf·su n 1 keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yg kuat: krn kecewa, — nya untuk belajar mulai berkurang; 2 dorongan hati yg kuat untuk berbuat kurang baik; hawa nafsu: tidak mungkin hal baik itu dilakukan tanpa melawan — pribadi; 3 selera; gairah atau keinginan (makan): ikan asin dan sayur asam menambah — makan; 4 panas hati; marah; meradang: — nya meluap ketika melihat saingannya itu;
 nafsi, raja di mata, sultan di hati, pb berbuat sekehendak hati sendiri;
 amarah 1 dorongan batin untuk berbuat yg kurang baik, terutama marah; 2 kemarahan; panas hati; — iblis dorongan batin untuk melakukan tindakan yg mengarah pd kemaksiatan atau kejahatan; — lawamah dorongan batin untuk mengikuti jalan kebaikan dan kebenaran; —mutmainah dorongan batin untuk mempertahankan diri dr segala kejahatan krn selalu ingat kpd Allah; — radiah dorongan batin yg diridai Allah Swt.; — setan nafsu iblis; — tabiat ark naluri; insting;
ber·naf·su v mempunyai keinginan (dorongan atau gairah hati); ada nafsu; dng nafsu: aku jadi ~ untuk mengusutnya; tidak ~ membeli barang yg mahal-mahal; ia tidak ~ lagi bekerja di kantor itu


Jumlah Pengunjung

  • 98,298 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated