GHIBAH YANG DIPERBOLEHKAN

“Janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seseorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyanyang.” (QS. Al-Hujarat [49]: 12)

Ahmad Hadi Yasin memberikan penjelasan tentang fitnah dan ghibah. Ia menjelaskan fitnah adalah mengatakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh seseorang, sedangkan membericakan perbuatan orang lain yang bisa membuatnya marah disebut sebagai ghibah.

Adapun Imam Nawawi dalam Riyadush Shalihin menjelaskan enam hal terkait perbuatan membicararakan orang lain yang tidak dikategorikan ghibah, adalah:

  1. Orang yang dianiaya dan mengadukan penganiayaan yg dialaminya kepada orang yang diduga bisa mengatasi penganiayaan tersebut;
  2. Menceritakan keburukan orang lain  karena mengharapkan pertolongan atau bantuan agar keburukan tersebut bisa segera disingkirkan;
  3. Menceritakan keburukan dalam rangka meminta fatwa;
  4. Menceritakan keburukan dalam rangka memberi peringatan kepada orang lain agar tidak terkecoh;
  5. Menceritakan keburukan orang yang secara terang-terangan melakukan suatu perbuatan buruk tanpa rasa malu;
  6. Menceritakan sesuatu untuk mengidentifikasi seseorang, menjelaskan profil yang bersangkutan, atau untuk memberinya gelar yang tanpa hal tersebut ia tidak dikenal.

 

Sumber rujukan:

Ahmad Hadi Yasin, 2012, Dahsyatnya Sabar, Cet. 1, QultumMedia, Jakarta.


Jumlah Pengunjung

  • 98,298 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated