UPAYA HUKUM SEBAGAI SISTEM KONTROL

Institusi dan lembaga wajib memilik tingkatan atau lapisan pengawasan (kontrol) terhadap produk yang dihasilkan agar menghasilkan produk yang berkualitas baik. Begitu pula dengan peradilan di Indonesia.

Hukum Indonesia mengenal tingkatan upaya hukum biasa dan upaya hukum luar biasa. Upaya hukum ini dimaksudkan sebagai sistem kontrol atas putusan pengadilan dari tingkat bawah sampai tingkat kasasi.

Sistem kontrol demikian tidak luput dari celah suap menyuap untuk membeli putusan. Hal yang tidak dipungkiri bila putusan hakim dapat dibeli.

Putusan hakim yang dibeli adalah tidak terlepas dari kesadaran hukum masyarakat. Jika ada adagium bahwa hukum itu memiliki kepastian hukum, sesuatu yang pasti tentang putusan perkara yang diadili adalah sesuatu yang diyakini, maka jual beli perkara dapatlah diminimalisir untuk berkembang dalam ranah hukum Indonesia.

Pemikiran hakim dalam pertimbangan putusan dapat sebagai obyek pengawasan (kontrol) tentang apakah hukum telah diberikan dengan baik dan benar sesuai hukum yang berlaku. Pertimbangan hakim selalu dapat diuji, baik itu oleh pihak yang berperkara ataupun oleh tingkat banding dan kasasi ataupun peninjauan kembali.

Sehingga hal yang aneh apabila  masih ada pihak-pihak yang membeli putusan hakim. Apakah si pembeli hukum tidak mempunyai keyakinan bahwa hukum itu adalah pasti. Siapa yang bersalah maka akan dihukum dan siapa yang dapat membuktikan dalilnya maka akan dimenangkan.

Jika pembeli putusan telah membeli putusan hakim, maka ia telah tidak meyakini akan dua hal:

Pertama, hukum itu adalah pasti. Setiap pemeriksaan perkara sudah dapat disimpulkan siapa yang bersalah akan divonis dalam perkara pidana, dan siapa yang dapat membuktikan dalilnya akan dimenangkan dalam perkara perdata. Jika ia tetap menyuap, maka ia sudah tidak percaya akan pastinya hukum. Sehingga ia sudah tidak percaya akan hukumnya dunia.

Kedua, siapa yang menyuap itu adalah perbuatan dosa sesuai dengan ajaran agama dan Ketuhanan. Bila ia tetap menyuap, maka ia sudah tidak percaya akan hukumnya Tuhan.

Jadi siapa sebenarnya yang telah tertipu dan terbodohi bagi pembeli putusan hakim.

Catatan: renungan pekerjaan harian si pemberi putusan.

 


Jumlah Pengunjung

  • 98,298 pengunjung

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 12 pengikut lainnya

Top Rated